Ujian Akhir Semester
Ini sebuah kisah nyata…
Satu kelas mahasiswa tingkat akhir sedang mengerjakan ujian semester. Setelah soal dibagikan, mereka dipersilakan mengerjakan ujian tersebut. Seperti biasanya, para mahasiswa membolak-balik lembar soal dan membaca pertanyaan-pertanyaan secara sekilas. Pertanyaannya tidak terlalu susah, gumam mereka dalam hati. Namun mereka terkejut saat membaca pertanyaan terakhir:
“Sebutkan nama ibu yang membersihkan WC kita setiap hari.”
Profesor pasti sedang bercanda, pikir mereka. Dwi, seorang mahasiswa di kelas tersebut tampak berpikir keras. Ia coba mengingat-ingat sosok ibu pembersih WC itu. Badannya gemuk, gembul, rambutnya digelung, mungkin usianya sekitar 50 tahunan. Namun siapakah nama ibu itu? Dwi tak bisa menjawab pertanyaan itu dan akhirnya dibiarkan kosong tanpa jawaban.
Setelah ujian selesai, Dwi bertanya kepada dosennya, “Pertanyaan yang terakhir tadi akan dinilai juga, prof?”
“Tentu saja,” jawab pak profesor itu, “dalam perjalanan karirmu nanti, kau akan bertemu dengan banyak orang. Semua orang itu berarti. Mereka patut mendapat perhatian darimu, meski yang kau bisa berikan sekedar senyuman dan sapaan.”
Dwi merasa mendapat pelajaran penting hari itu. Dan hari itu juga ia baru tahu bahwa ibu yang membersihkan WC bernama Ibu Suginah.
Hidup Itu Seperti Secngkir Kopi
Sekelompok alumni – yang semuanya tengah menduduki karir gemilang – mengadakan reuni di rumah seorang profesor yang dulu mengajar mereka. Setelah bertegur sapa, obrolan segera beralih menjadi keluhan tentang stress dalam pekerjaan dan kehidupan mereka.
Sang profesor pergi ke dapur dan kembali membawa nampan berisi satu teko besar kopi dan bermacam-macam cangkir – ada yang terbuat dari porselen, plastik, kaca, maupun kristal. Ada yang biasa dan murahan, ada yang mahal, ada pula yang indah bentuk rupanya.
Ketika semua muridnya telah memegang secangkir kopi di tangan, profesor itu berkata, "Coba perhatikan, semua cangkir yang mahal dan indah sudah kalian pilih. Sisanya tinggal cangkir yang biasa dan murahan. Memang normal dan wajar jika menginginkan yang terbaik dalam hidup kalian. Namun sebenarnya di situlah sumber persoalan dan stress kalian."
"Percayalah bahwa cangkir itu tidak menambah kualitas rasa kopi kalian. Yang kalian inginkan adalah kopi, bukan cangkir, tapi kalian dengan sengaja mencari cangkir yang terbaik ... sambil saling melirik cangkir satu sama lain."
"Sekarang pertimbangkan ini, hidup adalah kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkir. Cangkir itu hanyalah alat untuk menampung Kehidupan. Apapun jenis cangkir yang kita miliki tidak membentuk atau mengubah kualitas hidup kita. "
"Kalau kita menaruh perhatian pada cangkirnya saja, kita tak akan bisa menikmati sedapnya kopi. Orang-orang yang paling berbahagia tidak memiliki semua hal yang terbaik. Namun mereka menjadikan yang terbaik dari semua hal yang mereka miliki. Jadi, nikmatilah kopinya, bukan cangkirnya!"
Adakah yang Mendoakan Kita
Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam ia dirawat di rumah sakit di ruang ICU. Pada saat orang-orang terlelap, dalam dunia roh, Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya itu.
Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam, jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, maka kau akan meninggal dunia!"
"Kalau hanya 50 orang, itu mah gampang," kata si pengusaha ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati. Pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya. Dengan antusiasnya si pengusaha itu
bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku. Jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang. Jadi kalau hanya 50 orang yang berdoa, pasti
bukan persoalan yang sulit."
Dengan lembut si Malaikat itu berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu. Sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu."
Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan melalui layar besar berupa TV, siapa 3 orang yang berdoa bagi kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka sang istri, di sebelahnya ada 2 anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.
Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan yang kedua. Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu." Kembali terlihat di mana si istri sedang berdoa jam 2:00 dini hari, "Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami yang baik atau ayah yang baik. Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun ia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar di hadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak kami, anak-anak yang telah Engkau titipkan. Mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." Setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.
Melihat peristiwa itu, tanpa terasa air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Dan malam
ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.
Waktu terus bergulir. Kini tinggal sisa 10 menit lagi. Melihat waktu yang semakin sempit, semakin menangislah si pengusaha ini. Penyesalan yang luar biasa namun waktunya sudah terlambat. Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang. Dengan setengah bergumam, ia bertanya, "Adakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku yang berdoa buatku?"
Jawab si Malaikat, "Ada beberapa orang yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawanmu yang tidak bersalah."
Si pengusaha tertunduk lemah dan pasrah. Kalau malam ini adalah malam terakhirnya, ia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu. Kau tidak jadi meninggal karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00."
Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha itu bertanya siapakah yang 47 orang itu? Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat di mana pernah ia kunjungi bulan lalu.
"Bukankah itu panti asuhan?" kata si pengusaha itu pelan.
"Benar, anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kau, pria yang pernah menolong mereka, akhirnya anak-anak panti asuhan itu sepakat berdoa buat kesembuhanmu."
Doa sangat besar kuasanya. Namun tak jarang kita malas atau merasa tak punya waktu untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita teringat seorang keluarga atau teman, barangkali kita berpikir itu kebetulan saja. Padahal mungkin saja pada saat itu keluarga atau teman kita dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihinya.
Pencuri
Pada akhir tahun 1980-an di Shanghai, ada penjahat bernama Lee San. Dia adalah seorang yang cerdas, tapi sayang, ia menggunakan kecerdasannya itu untuk mencuri. Mencuri adalah nafkah bagi orang ini. Karena kepintarannya, aktivitas ini tidak pernah terungkap oleh pihak berwajib. Dan saat ini, hidup Lee San sudah berkecukupan dari penghasilannya mencuri dan berjudi.
Suatu hari, saat dia berkeliling mencari mangsa. Wang Wu ‘teman seperjuangannya’ memberi kabar, “Aku punya berita besar, sebuah keluarga baru saja mendapatkan santunan beberapa ribu dollar. Dan mereka adalah sepasang kakek-nenek, aku tahu betul di mana rumah mereka.”
“Haha!” Lee San tertawa, “sasaran empuk nih..”
“Tetapi anjing mereka besar dan buas... hati-hati!” temannya menyahut.
Dengan percaya diri, Lee San menjawab, “Memang kenapa? Anjing hanya hewan bodoh, pasti mudah ditipu! Jangan remehkan kemampuanku untuk hal itu.”
Malam itu juga, dengan membawa peralatannya, Lee San langsung menuju rumah sepasang orang tua itu. Ketika tiba di sana, ia melihat sebuah lampu minyak yang besar tergantung tinggi di gerbang rumahnya. Lee San mulai mengendap-endap di depan gerbang rumah itu. Tiba-tiba terdengar suara anjing menyalak.
Lee San dengan sigap melempar sepotong daging ke arah anjing itu. Daging itu sudah dibubuhi banyak ramuan racun mematikan. Maka mudah ditebak, dalam jangka waktu kurang dari satu menit, anjing itu tergeletak – mati. Lee San pun sekarang dapat dengan leluasa memasuki pekarangan rumah orang tua itu.
Lee San mulai memasuki pintu samping rumah yang tidak terkunci lalu menuju kamar tempat uang itu disimpan di bawah bantal. “Ini mudah sekali,” Lee berpikir, “mereka punya begitu banyak uang, tetapi tidak menyimpannya dalam sebuah kotak brankas.”
Abraham Lincoln Yang Jujur
Setiap tanggal 12 Februari, rakyat Amerika merayakan ulang tahun Abraham Lincoln. Lincoln dikenang sebagai salah satu tokoh besar yang hebat. Sebelum ia menjadi Presiden Amerika, Lincoln menghabiskan masa dua puluh tahun sebagai pengacara yang kurang berhasil – jika dilihat dari sisi finansial. Namun jika ukurannya adalah kebaikan yang ia lakukan, maka ia adalah orang yang sangat kaya. Sampai saat ini masih tersimpan dokumen-dokumen yang bisa dijadikan contoh-contoh kejujuran dan kebaikannya.
Salah satu contohnya, Lincoln tidak meminta bayaran tinggi dari orang-orang miskin seperti dirinya. Suatu ketika, seorang lelaki memberikan bayaran sebesar dua puluh lima dollar. Tetapi Lincoln mengembalikan sepuluh dollar karena menurutnya jumlah yang diberikan itu terlalu besar.
Lincoln juga dikenal sebagai pengacara yang sering menasihati kliennya agar penyelesaian kasus dilakukan di luar pengadilan. Dengan begitu, para klien dapat mengemat biaya, dan tidak perlu membayar uang jasa bagi Lincoln.
Seorang janda yang amat sangat miskin, istri dari seorang tentara, suatu ketika dipungut biaya dua ratus dollar untuk memproses uang pensiun suaminya yang jumlahnya empat ratus dollar. Lincoln memperkarakan kasus tersebut sampai ke pengadilan kemudian memenangkan kasus ini. Lincoln tidak meminta bayaran atas jasanya. Ia justru membayarkan biaya akomodasi dan transportasi bagi perempuan itu.
Lincoln dan rekannya pernah menghentikan terjadinya kasus penipuan sebidang tanah yang dilakukan seorang laki-laki. Padahal pemilik sah tanah tersebut adalah seorang gadis yang sedang menderita sakit
jiwa. Kasus ini bisa selesai dalam waktu lima belas menit. Setelah itu rekannya membagi rata uang jasa yang mereka terima namun Lincoln menegurnya. Rekan Lincoln menjelaskan bahwa jumlah uang jasa itu
merupakan kesepakatan antar dirinya dan saudara kandung gadis yang sakit jiwa itu.
“Walaupun kesepakatannya seperti itu,” kata Lincoln, “aku tidak setuju. Uang itu berasal dari kantung orang miskin yang sedang menderita. Lebih baik aku kelaparan daripada menguras uangnya. Kau harus mengembalikan setidaknya setengah dari uang itu, atau aku tidak akan menerima satu sen pun dari uang itu.”
Lincoln bisa dianggap bodoh, jika dilihat dari standar tertentu. Dia tidak punya banyak uang karena kesalahannya sendiri. Namun ia adalah manusia yang baik menurut standar siapapun dan karena itu rakyat Amerika bangga merayakan hari ulang tahunnya.
Anak katak dan Hujan
Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa? Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ujar anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. “Anakku,” ucap sang induk kemudian, “itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik,” jelas induk katak sambil terus membelai dan anak katak itu pun mulai tenang. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, pemandangan yang begitu menakutkan bagi si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.
“Anakku, itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang,” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.
“Blarrr!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali,” ucapnya sambil terus memejamkan mata.
“Sabar, anakku,” ucapnya sambil terus membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang.
Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, “Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian yang harum. Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.
Kupu-Kupu
Suatu ketika seorang lelaki mohon kepada Tuhan sekuntum bunga dan seekor kupu-kupu namun Tuhan malah memberinya sebonggol kaktus… dan seekor ulat.Alangkah sedihnya lelaki itu, ia tak mengerti kenapa permintaannya keliru. Pikirnya, "Oh, Tuhan masih banyak tugas mengurus orang-orang lain." Dan dia memutuskan tidak akan mempertanyakannya lagi.
Setelah beberapa waktu, si lelaki memeriksa kembali permintaan yang telah lama dilupakannya. Betapa terkejutnya dia, dari sebonggol tanaman kaktus berduri dan jelek itu tumbuhlah sekuntum bunga yang elok. Dan ulat yang menjijikkan telah berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.
Melihat Apa Yang Kita Lihat
Salah satu kecenderungan manusia adalah melihat kepada apa yang tidak dimilikinya dan membandingkan dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Jika hal ini yang dilakukan, maka tidak mengherankan jika hasilnya adalah mengeluh, menggerutu dan hidup yang tidak maksimal. Orang yang berhasil melihat kepada potensi yang ada di dalam dirinya dan berusaha untuk mengembangkannya dengan cara menggunakan potensi tersebut maka akan melihat kemajuan-kemajuan luar biasa di dalam hidupnya.
Kisah pemain biola legendaris abad 19 bernama Niccolo Paganini menarik untuk kita pelajari. Dalam sebuah konser yang diiringi dengan orkestra penuh, Niccolo Paganini sedang memainkan biolanya, tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, tetapi dia meneruskan permainan biolanya. Kejadian yang sangat mengejutkan terjadi lagi yaitu senar biola yang lainpun putus satu persatu dan hanya meninggalkan satu senar saja. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya dia memilih untuk berhenti memainkan biolanya karena belum pernah ada seorangpun yang dapat memainkan biola dengan satu senar. Keadaan itu tidak membuat Niccolo Paganini menyerah, dia memilih untuk terus memainkan biola dengan satu senarnya sampai selesai dan sungguh luar biasa peristiwa itu justru mengangkat namanya lebih terkenal lagi.
Mengapa Niccolo Paganini berhasil mengatasi masalahnya? Karena dia tidak melihat kepada senar-senar yang putus. Dia tidak mau ditentukan oleh senar-senar yang putus, tetapi memilih untuk melihat dan menggunakan apa saja yang masih dia miliki yaitu satu senarnya. Dan dengan satu senar itu dia berhasil menyelesaikan permainannya yang telah membuat namanya semakin terkenal.
Musafir dan Batu Ajaib
Seorang musafir berjalan di bawah terik matahari. Ia menghentikan langkahnya ketika tiba di sebuah pasar. Saat itu ia merasa sangat lapar karena telah berjalan berjam-jam tanpa makan. Ia kemudian menghampiri seorang lelaki di pasar dan memohon diberikan makanan. Lelaki itu menjawab, “Wah, maaf sekali pak, saya juga tidak punya makanan untuk keluarga saya.”
Si musafir meminta bantuan ke beberapa orang lainnya di pasar itu namun semua memberikan jawaban yang sama sehingga membuatnya nyaris putus harapan. Tiba-tiba ia melihat sebuah batu bundar yang ukurannya kurang-lebih sebesar buah mangga. Si musafir mendapat ide. Diambilnya batu itu, lantas ia memberitahu laki-laki dan perempuan di pasar bahwa ia punya batu ajaib yang bisa memberikan mereka makan.
Karena penasaran dan ingin tahu, orang-orang bergerumbul mengelilingi si musafir. Setelah perhatian semua orang tertuju pada si musafir, lalu mulailah ia menceritakan tentang batu ajaib itu.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian. Di tangan saya ada batu. Dengan batu ini, saya bisa membuat sop untuk semua orang di desa ini. Semua orang dijamin bakal kenyang. Yang saya butuhkan cuma sebuah panci dan air.”
Seketika itu juga, salah seorang perempuan yang tinggal tidak jauh dari pasar menawarkan pindah ke rumahnya. “Di rumah saya ada air dan panci, agak besar pula. Mari ke rumah saya. Kita bisa memasak di sana.”
Para penonton berbondong-bondong mengikuti perempuan dan musafir itu. Mereka masuk ke rumahnya. Di dapur sudah tersedia panci berisi air untuk mempersiapkan makan malam. Si musafir menaruh batu itu ke dalam panci sambil tersenyum penuh percaya diri kepada penonton yang meragukan keajaiban batu itu.
"Sebenarnya..., " ucap Musafir itu, "sop batu ini sudah terasa enak jika dimakan begini saja, tapi kalau kalian ingin merasakan sop yang enak sekali, sebaiknya sop ini diberi wortel. Sayang sekali, tidak ada wortel di sini."
Seorang laki-laki yang tengah menonton kemudian melangkah ke depan lalu memberikan seiikat wortel yang baru saja dibelinya dari pasar. Wortel itu lalu dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam panci. Setelah itu, seorang ibu mengusulkan agar sop itu diberi bawang agar semakin sedap, katanya. Ia lalu mengeluarkan beberapa siung bawang dari keranjang belanjaannya. Dipotong-potong bawang itu kemudian ditaburkan ke dalam panci.
“Ada yang punya kentang?” tanya Bu Lurah.
“Saya punya bu,” kata anak remaja sambil menyerahkan tiga buah kentang kepada si musafir.
“Bagaimana kalau ditambah kaldu ayam agar semakin gurih?”
“Ini ada dada dan paha ayam. Daging itu disuwir-suwir supaya semua dapat bagian.”
Sop itu semakin bertambah isinya. Setiap kali ada yang mengusulkan tambahan bahan, seseorang dari kelompok itu memberikan bahan yang dibutuhkan sampai akhirnya panci itu penuh dengan rempah-rempah, sayuran, dan daging ayam. Setelah sop itu matang, para penduduk desa itu gembira dan percaya bahwa batu si musafir itu benar-benar ajaib.
Kisah Sebatang Pensil
Seorang bocah memperhatikan neneknya menulis surat. Suatu ketika ia bertanya, “Apakah nenek menulis tentang apa yang sudah kita kerjakan? Apakah kisah tentang aku?”
Nenek berhenti menulis. “Ya, aku memang sedang menulis tentang kamu,” ujarnya, “tetapi, yang lebih penting, adalah pensil yang kupakai. Aku berharap kau akan seperti pensil ini kelak jika kau dewasa.”
Bocah itu mengamati pensil nenek. Tidak ada yang istimewa.
“Tapi pensil itu tidak beda dengan pensil-pensil yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung caramu memandang sesuatu. Pensil ini punya lima hal yang jika kau bisa kelola secara baik dalam dirimu, kau akan jadi seseorang yang senantiasa berdamai dengan dunia.”
“Pertama, kau mampu melakukan hal-hal besar, tapi jangan lupa bahwa ada tangan yang membimbing langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan dan Dia selalu membimbing kita menurut kehendakNya.”
“Kedua, sesekali aku mesti berhenti menulis dan meraut pensilku. Pensil ini akan menderita sejenak, tapi setelah itu, ia akan makin tajam. Kamu juga begitu, kau harus belajar menahan luka dan kesedihan karena itu akan membuatmu jadi seseorang yang lebih baik.”
“Ketiga, pensil memungkinkanmu menghapus tulisan yang salah. Artinya, membetulkan kesalahan bukanlah sesuatu yang buruk. Ia membantu kita agar tetap berada di jalan yang adil.”
“Keempat, yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah kayu bagian luarnya, tetapi grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang terjadi di dalam dirimu.”
“Terakhir, atau yang kelima, pensil selalu meninggalkan jejak. Dengan cara sama, kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kamu lakukan dalam hidup ini meninggalkan bekas. Karena itu, sadarilah setiap tindakanmu.”
Nenek berhenti menulis. “Ya, aku memang sedang menulis tentang kamu,” ujarnya, “tetapi, yang lebih penting, adalah pensil yang kupakai. Aku berharap kau akan seperti pensil ini kelak jika kau dewasa.”
Bocah itu mengamati pensil nenek. Tidak ada yang istimewa.
“Tapi pensil itu tidak beda dengan pensil-pensil yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung caramu memandang sesuatu. Pensil ini punya lima hal yang jika kau bisa kelola secara baik dalam dirimu, kau akan jadi seseorang yang senantiasa berdamai dengan dunia.”
“Pertama, kau mampu melakukan hal-hal besar, tapi jangan lupa bahwa ada tangan yang membimbing langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan dan Dia selalu membimbing kita menurut kehendakNya.”
“Kedua, sesekali aku mesti berhenti menulis dan meraut pensilku. Pensil ini akan menderita sejenak, tapi setelah itu, ia akan makin tajam. Kamu juga begitu, kau harus belajar menahan luka dan kesedihan karena itu akan membuatmu jadi seseorang yang lebih baik.”
“Ketiga, pensil memungkinkanmu menghapus tulisan yang salah. Artinya, membetulkan kesalahan bukanlah sesuatu yang buruk. Ia membantu kita agar tetap berada di jalan yang adil.”
“Keempat, yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah kayu bagian luarnya, tetapi grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang terjadi di dalam dirimu.”
“Terakhir, atau yang kelima, pensil selalu meninggalkan jejak. Dengan cara sama, kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kamu lakukan dalam hidup ini meninggalkan bekas. Karena itu, sadarilah setiap tindakanmu.”
Langganan:
Komentar (Atom)









